karangtengahprandon.desa.id - Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di berbagai wilayah pedesaan Indonesia, tidak terkecuali di Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Merespons permasalahan ini, kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 41 UIN Sunan Ampel Surabaya menghadirkan program inovatif berbasis pangan lokal berupa pembuatan puding daun kelor dan nugget tempe daun kelor sebagai solusi gizi yang lezat, terjangkau, dan mudah diterapkan oleh ibu-ibu di rumah.
Daun kelor dipilih sebagai bahan utama bukan tanpa alasan. Tanaman yang tumbuh subur di berbagai penjuru wilayah pedesaan Indonesia ini telah lama dikenal oleh para ahli gizi sebagai salah satu superfood alami dengan kandungan nutrisi yang luar biasa tinggi. Daun kelor mengandung protein, zat besi, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan berbagai antioksidan penting yang sangat dibutuhkan oleh tubuh anak dalam masa tumbuh kembangnya. Bahkan, kandungan zat besi dalam daun kelor disebut lebih tinggi dibandingkan bayam, sementara kandungan kalsiumnya melampaui susu sapi. Potensi luar biasa inilah yang mendorong mahasiswa KKN 41 untuk menjadikan daun kelor sebagai solusi gizi utama dalam program pencegahan stunting mereka.
Namun demikian, salah satu tantangan terbesar dalam pemanfaatan daun kelor di tingkat rumah tangga selama ini adalah rasa dan tampilannya yang kurang menarik bagi anak-anak. Untuk mengatasi hal ini, mahasiswa KKN 41 berinovasi dengan mengolah daun kelor ke dalam dua produk pangan yang disukai anak-anak sekaligus mudah diterima oleh lidah semua kalangan, yaitu puding dan nugget.
Puding daun kelor hadir sebagai kudapan sehat yang memadukan kelembutan tekstur puding dengan manfaat gizi tinggi dari daun kelor. Warna hijau alami yang dihasilkan dari daun kelor segar justru memberikan tampilan yang menarik dan menggugah selera, sehingga anak-anak pun tidak segan untuk mengonsumsinya. Dengan penambahan bahan-bahan sederhana seperti susu, gula, dan agar-agar, puding ini tidak hanya bergizi tinggi tetapi juga memiliki cita rasa manis yang digemari anak-anak maupun orang dewasa.
Sementara itu, nugget tempe daun kelor merupakan inovasi produk lauk pauk berprotein tinggi yang memadukan dua bahan lokal unggulan, yaitu tempe dan daun kelor. Tempe sebagai produk fermentasi kedelai dikenal sebagai sumber protein nabati berkualitas tinggi yang mudah dicerna oleh tubuh, termasuk oleh anak balita. Dipadukan dengan daun kelor yang kaya zat besi dan kalsium, nugget ini menjadi sajian lauk yang tidak hanya lezat dan mengenyangkan, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan gizi anak secara lebih komprehensif. Proses pembuatannya pun cukup sederhana dan dapat dilakukan dengan peralatan dapur rumahan biasa, sehingga ibu-ibu di desa dapat dengan mudah mereplikasi resep ini secara mandiri.
Kegiatan pelatihan dan demonstrasi pembuatan puding serta nugget tempe daun kelor ini dilaksanakan langsung bersama ibu-ibu dan kader posyandu di Desa Karangtengah Prandon pada Rabu (01/07/2026). Para peserta tidak hanya diperkenalkan pada manfaat gizi daun kelor secara teoritis, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam proses memasak dari awal hingga akhir. Antusiasme para ibu sangat terlihat selama kegiatan berlangsung — mereka tampak bersemangat mencoba resep, bertanya soal takaran bahan, hingga langsung mempraktikkan sendiri cara membentuk dan menggoreng nugget.
"Kami senang sekali dengan program ini. Ternyata daun kelor bisa diolah menjadi makanan yang enak dan disukai anak-anak. Selama ini kami hanya tahu kelor untuk sayur bening saja," ujar salah satu ibu peserta kegiatan.
Mahasiswa KKN 41 menekankan bahwa program ini sengaja dirancang dengan mempertimbangkan keterjangkauan dan kemudahan pelaksanaan di tingkat rumah tangga. Seluruh bahan yang digunakan adalah daun kelor, tempe, susu, tepung, dan bumbu yang merupakan bahan yang mudah ditemukan di pasar lokal dengan harga yang sangat terjangkau. Hal ini penting agar program tidak hanya berhasil saat demonstrasi, tetapi benar-benar dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masyarakat desa dalam jangka panjang, jauh setelah masa KKN berakhir.
Selain itu, mahasiswa KKN 41 juga menyiapkan buku resep sederhana yang dibagikan kepada para peserta sebagai panduan praktis agar ibu-ibu di Desa Karangtengah Prandon dapat terus membuat puding dan nugget tempe daun kelor untuk keluarga mereka sehari-hari. Dengan konsumsi rutin produk berbahan dasar kelor ini, diharapkan asupan gizi anak-anak balita di desa dapat meningkat secara bertahap, sehingga angka stunting dapat ditekan secara nyata.
"Harapan kami, dua produk ini bisa menjadi bagian dari menu harian keluarga di desa. Jika dikonsumsi secara rutin oleh balita,
Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di berbagai wilayah pedesaan Indonesia, tidak terkecuali di Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Merespons permasalahan ini, kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 41 UIN Sunan Ampel Surabaya menghadirkan program inovatif berbasis pangan lokal berupa pembuatan puding daun kelor dan nugget tempe daun kelor sebagai solusi gizi yang lezat, terjangkau, dan mudah diterapkan oleh ibu-ibu di rumah.
Daun kelor dipilih sebagai bahan utama bukan tanpa alasan. Tanaman yang tumbuh subur di berbagai penjuru wilayah pedesaan Indonesia ini telah lama dikenal oleh para ahli gizi sebagai salah satu superfood alami dengan kandungan nutrisi yang luar biasa tinggi. Daun kelor mengandung protein, zat besi, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan berbagai antioksidan penting yang sangat dibutuhkan oleh tubuh anak dalam masa tumbuh kembangnya. Bahkan, kandungan zat besi dalam daun kelor disebut lebih tinggi dibandingkan bayam, sementara kandungan kalsiumnya melampaui susu sapi. Potensi luar biasa inilah yang mendorong mahasiswa KKN 41 untuk menjadikan daun kelor sebagai solusi gizi utama dalam program pencegahan stunting mereka.
Namun demikian, salah satu tantangan terbesar dalam pemanfaatan daun kelor di tingkat rumah tangga selama ini adalah rasa dan tampilannya yang kurang menarik bagi anak-anak. Untuk mengatasi hal ini, mahasiswa KKN 41 berinovasi dengan mengolah daun kelor ke dalam dua produk pangan yang disukai anak-anak sekaligus mudah diterima oleh lidah semua kalangan, yaitu puding dan nugget.
Puding daun kelor hadir sebagai kudapan sehat yang memadukan kelembutan tekstur puding dengan manfaat gizi tinggi dari daun kelor. Warna hijau alami yang dihasilkan dari daun kelor segar justru memberikan tampilan yang menarik dan menggugah selera, sehingga anak-anak pun tidak segan untuk mengonsumsinya. Dengan penambahan bahan-bahan sederhana seperti susu, gula, dan agar-agar, puding ini tidak hanya bergizi tinggi tetapi juga memiliki cita rasa manis yang digemari anak-anak maupun orang dewasa.
Sementara itu, nugget tempe daun kelor merupakan inovasi produk lauk pauk berprotein tinggi yang memadukan dua bahan lokal unggulan, yaitu tempe dan daun kelor. Tempe sebagai produk fermentasi kedelai dikenal sebagai sumber protein nabati berkualitas tinggi yang mudah dicerna oleh tubuh, termasuk oleh anak balita. Dipadukan dengan daun kelor yang kaya zat besi dan kalsium, nugget ini menjadi sajian lauk yang tidak hanya lezat dan mengenyangkan, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan gizi anak secara lebih komprehensif. Proses pembuatannya pun cukup sederhana dan dapat dilakukan dengan peralatan dapur rumahan biasa, sehingga ibu-ibu di desa dapat dengan mudah mereplikasi resep ini secara mandiri.
Kegiatan pelatihan dan demonstrasi pembuatan puding serta nugget tempe daun kelor ini dilaksanakan langsung bersama ibu-ibu dan kader posyandu di Desa Karangtengah Prandon pada Rabu (01/07/2026). Para peserta tidak hanya diperkenalkan pada manfaat gizi daun kelor secara teoritis, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam proses memasak dari awal hingga akhir. Antusiasme para ibu sangat terlihat selama kegiatan berlangsung — mereka tampak bersemangat mencoba resep, bertanya soal takaran bahan, hingga langsung mempraktikkan sendiri cara membentuk dan menggoreng nugget.
"Kami senang sekali dengan program ini. Ternyata daun kelor bisa diolah menjadi makanan yang enak dan disukai anak-anak. Selama ini kami hanya tahu kelor untuk sayur bening saja," ujar salah satu ibu peserta kegiatan.
Mahasiswa KKN 41 menekankan bahwa program ini sengaja dirancang dengan mempertimbangkan keterjangkauan dan kemudahan pelaksanaan di tingkat rumah tangga. Seluruh bahan yang digunakan adalah daun kelor, tempe, susu, tepung, dan bumbu yang merupakan bahan yang mudah ditemukan di pasar lokal dengan harga yang sangat terjangkau. Hal ini penting agar program tidak hanya berhasil saat demonstrasi, tetapi benar-benar dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masyarakat desa dalam jangka panjang, jauh setelah masa KKN berakhir.
Selain itu, mahasiswa KKN 41 juga menyiapkan buku resep sederhana yang dibagikan kepada para peserta sebagai panduan praktis agar ibu-ibu di Desa Karangtengah Prandon dapat terus membuat puding dan nugget tempe daun kelor untuk keluarga mereka sehari-hari. Dengan konsumsi rutin produk berbahan dasar kelor ini, diharapkan asupan gizi anak-anak balita di desa dapat meningkat secara bertahap, sehingga angka stunting dapat ditekan secara nyata.
"Harapan kami, dua produk ini bisa menjadi bagian dari menu harian keluarga di desa. Jika dikonsumsi secara rutin oleh balita, kandungan gizi dari daun kelor dan tempe ini diyakini mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal dan membantu mencegah stunting," ungkap Dewa dan Yusuf sebagai Koordinator Program Kerja Daun Kelor mahasiswa KKN 41.
Program inovatif berbasis pangan lokal ini merupakan bagian dari tiga program kerja utama KKN 41 UIN Sunan Ampel Surabaya di Desa Karangtengah Prandon, bersama program Rocket Stove untuk pengelolaan sampah ramah lingkungan, dan pendampingan branding UMKM lokal di Desa Karangtengah Prandon. Melalui sinergi ketiga program tersebut, KKN 41 berkomitmen untuk memberikan kontribusi nyata yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat desa dari kesehatan dan gizi, lingkungan hidup, hingga pemberdayaan ekonomi demi terwujudnya Desa Karangtengah Prandon yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera.
kandungan gizi dari daun kelor dan tempe ini diyakini mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal dan membantu mencegah stunting," ungkap Dewa dan Yusuf sebagai Koordinator Program Kerja Daun Kelor mahasiswa KKN 41.
Program inovatif berbasis pangan lokal ini merupakan bagian dari tiga program kerja utama KKN 41 UIN Sunan Ampel Surabaya di Desa Karangtengah Prandon, bersama program Rocket Stove untuk pengelolaan sampah ramah lingkungan, dan pendampingan branding UMKM lokal di Desa Karangtengah Prandon. Melalui sinergi ketiga program tersebut, KKN 41 berkomitmen untuk memberikan kontribusi nyata yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat desa dari kesehatan dan gizi, lingkungan hidup, hingga pemberdayaan ekonomi demi terwujudnya Desa Karangtengah Prandon yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera.
(Sumber : Mahasiswa KKN 41 UINSA)