karangtengahprandon.desa.id - Permasalahan sampah masih menjadi tantangan nyata yang dihadapi banyak desa di Indonesia, termasuk Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Kebiasaan membakar sampah secara terbuka yang selama ini dilakukan warga dinilai tidak hanya kurang efektif, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat dan kualitas udara lingkungan sekitar. Menjawab permasalahan tersebut, kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 41 UIN Sunan Ampel Surabaya menghadirkan sebuah solusi teknologi tepat guna yang sederhana namun berdampak besar, sebuah alat bernama Rocket Stove.
Rocket Stove atau tungku roket merupakan inovasi tungku pembakaran yang dikembangkan dengan pendekatan ilmiah berbasis prinsip termodinamika dan sirkulasi udara efisien. Berbeda dengan tungku atau metode pembakaran konvensional yang umumnya hanya mengandalkan ruang terbuka tanpa kontrol aliran udara, Rocket Stove dirancang dengan sistem ruang bakar berbentuk khusus yang memungkinkan udara masuk secara teratur dan terukur ke dalam inti pembakaran. Hasilnya, suhu di dalam ruang bakar dapat mencapai tingkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan pembakaran biasa, sehingga bahan bakar atau sampah kering yang dimasukkan akan terbakar habis secara lebih sempurna dan cepat.
Salah satu keunggulan utama Rocket Stove yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat adalah minimnya asap pekat yang dihasilkan selama proses pembakaran berlangsung. Pada metode pembakaran terbuka konvensional, asap tebal yang mengandung partikel berbahaya seperti karbon monoksida dan senyawa organik volatil kerap menjadi ancaman serius bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Dengan desain Rocket Stove, pembakaran yang lebih sempurna secara signifikan menekan produksi asap berbahaya tersebut, sehingga lingkungan di sekitar proses pembakaran tetap lebih bersih dan aman untuk dihirup.
Alat ini pun dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan akses bagi masyarakat desa. Bahan-bahan yang digunakan untuk membangun Rocket Stove sebagian besar merupakan material yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti batu bata, semen, dan besi, sehingga biaya pembuatannya relatif terjangkau. Proses konstruksinya pun tidak memerlukan keahlian teknis yang rumit, sehingga warga desa dapat membuat dan mereplikasi sendiri alat ini setelah mendapatkan panduan dari mahasiswa KKN 41.
Kegiatan pengenalan dan demonstrasi Rocket Stove ini dilaksanakan langsung di tengah-tengah masyarakat Desa Karangtengah Prandon dan turut dihadiri oleh para kepala dusun setempat. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa KKN 41 tidak hanya memperkenalkan konsep dan cara kerja alat, tetapi juga melakukan demonstrasi langsung penggunaan Rocket Stove sehingga warga dan perangkat desa dapat melihat secara nyata bagaimana perbandingan efektivitasnya dibandingkan metode pembakaran biasa yang selama ini mereka kenal.
Para kepala dusun yang hadir menyambut inovasi ini dengan antusias dan apresiasi yang tinggi. Mereka menilai bahwa Rocket Stove merupakan solusi yang tepat sasaran dan relevan dengan kondisi desa, terutama mengingat tingginya volume sampah kering berupa dedaunan, ranting, dan limbah pertanian yang kerap menumpuk di berbagai sudut desa, khususnya pada musim kemarau. Kehadiran alat ini diharapkan tidak hanya mengatasi masalah kebersihan lingkungan, tetapi sekaligus meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
"Kami melihat Rocket Stove ini sebagai program yang sangat bermanfaat. Selain mengurangi sampah, cara pembakarannya yang bersih juga lebih aman bagi warga kami. Kami berharap ini bisa terus digunakan dan dikembangkan oleh masyarakat desa setelah para mahasiswa selesai bertugas," tutur Pak Parji selaku perwakilan kepala dusun yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Perwakilan mahasiswa KKN 41 menyampaikan bahwa ide pengenalan Rocket Stove lahir dari hasil observasi dan pemetaan masalah yang mereka lakukan sejak awal masa KKN. Dengan melibatkan warga dan perangkat desa sejak tahap perencanaan, kelompok ini berupaya memastikan bahwa program yang mereka jalankan benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial semata.
"Kami tidak ingin program ini berhenti begitu KKN selesai. Makanya kami sengaja menggunakan bahan yang mudah didapat dan cara kerja yang bisa dipelajari sendiri oleh warga. Harapan kami, Rocket Stove ini bisa terus hidup dan dirawat oleh masyarakat desa dan meninggalkan kenangan fisik bagi warga Dusun Gandu " ujar Hafiz selaku koordinator Program Kerja Rocket Stove kelompok KKN 41.
Program Rocket Stove ini merupakan bagian dari tiga program kerja utama yang dirancang dan dilaksanakan oleh KKN 41 UIN Sunan Ampel Surabaya di Desa Karangtengah Prandon. Melalui program kerja ini, KKN 41 UIN Sunan Ampel Surabaya berharap dapat meninggalkan jejak positif yang nyata dan berkelanjutan bagi Desa Karangtengah Prandon. Kehadiran para mahasiswa di desa ini bukan sekadar memenuhi kewajiban akademis, melainkan merupakan wujud nyata pengabdian kepada masyarakat salah satu dari tiga pilar Tridharma Perguruan Tinggi yang menjadi landasan seluruh aktivitas civitas akademika UIN Sunan Ampel Surabaya. Dengan inovasi sederhana namun berdampak nyata seperti Rocket Stove, diharapkan Desa Karangtengah Prandon dapat selangkah lebih maju menuju lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari demi kesejahteraan seluruh warganya.
(Sumber : Mahasiswa KKN 41 UINSA)